RSS

Mesir dan Mursi…..

05 Jul

 Image

“Mursi, bayi demokrasi yang tak diinginkan”, begitu kata Anas Urbaningrum. Ini ada benarnya bila menilik kejadian yang menimpa Mursi, yang juga menimpa Anas.

Anas Urbaningrumg, terpilih menjadi ketua umum dari proses demokrasi yang digulirkan. Namun kemudian diturunkan dengan tekanan sprindik KPK dan pengambil alihan oleh Dewan Tinggi partai Demokrat.

Mursi, terpilih menjadi presiden dengan proses demokrasi yang fair dengan suara hampir 55 persen. Begitu juga pada saat referendum undang-undang, Mursi didukung oleh 60% suara rakyat. Namun kemudian dilengserkan hanya dengan pidato petinggi militer mesir.

Awalnya, keduanya kurang diperhitungan dalam konstelasi bursa calon pemimpin. Namun, justru kenyataanya mereka terpilih menjadi pemimpin.

Keduanya, bayi demokrasi yang tidak diinginkan oleh para “Invisible hand” yang bersembunyi dibalik kemeriahan demokrasi. Para invisible hand sudah punya calon-calon yang mereka inginkan namun public justru berreaksi berbeda.

Maka tidak ada cara yang paling mudah untuk mengembalikan kehendak invisible hand kecuali merampasnya atas nama penyelamatan.
Kasus Mursi
Mursi, awalnya dia hanyalah calon cadangan dari partai Partai Kebebasan dan Keadilan. Sedangkan calon kuatnya yaitu Khairat al-Shatir, yang memiliki pendukung sangat banyak dan berpengaruh, justru dianulir oleh komisi pemilihan umum Mesir.

Maka jadilah Mursi, si anak bawang, yang tidak dikenal oleh masyarakat Mesir untuk menghadapi Jendral Ahmed Safiq, yang sudah dikenal rakyat, cukup berpengaruh di militer, pemerintahan karena mantan pedana mentri dan sangat dekat dengan kroni Mubarak.

Namun apa dikata, di putaran kedua sang Jendral keok oleh Mursi. Lalu kabur ke luar negri karena kasus korupsi.

Upaya penggulingan Mursi sudah sering terjadi. Sejak awal Dewan Militer terlihat tidak mau menyerahkan kepemimpinan ke Mursi. Hal ini terlihat dari molornya penyerahan kekuasaan.

Mahkamah Agung pun membubarkan parlemen hasil sah pemilu. Sehingga pembahasan Undang-Undang Dasar batal. Bagaimana jadinya bila Negara tanpa undang undang ? Bisa kacaulah system kenegaraan.

Lalu Mursi mengeluarkan dekrit untuk mengisi kekosongan undang-undang hingga terbentuknya undang-undang baru. Disinilah demonstrasi besar-besaran terjadi, karena menganggap Mursi otoriter.

Ketika undang-undang selesai dibuat, terjadilah demonstrasi besar-besaran lagi untuk membatalkan undang-undang. Kalau undang-undang tidak ada bagaimana mengelola Negara ? Maka dilakukanlah refererendum, yang hasilnya 60 persen rakyat menerima undang-undang.

Demonstrasi penurunan Mursi yang dirancang dari luar negri pun sering terjadi. Namun semuanya gagal. Namun dengan turun tangannya militer merampas kepemimpinan Mursi sepertinya akan berhasil mengkudeta kekuasaan Mursi.

Mari kita lihat perkembangan Mesir pasca kudeta militer ini

 
Leave a comment

Posted by on July 5, 2013 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
NUR AMAL

Just another WordPress.com site

Lembaga Kesehatan Mahasiswa Islam

Just another WordPress.com site

Kohati FKG Unhas

Just another WordPress.com site

KOHATI-MAKTIM

Just another WordPress.com site

Kohati Maktim

Just another WordPress.com site

E L E A N O R

Just another WordPress.com site

Rumah Ide...

Just another WordPress.com site

%d bloggers like this: